BUDAYA JAWA PADA GEREJA HATI KUDUS YESUS GANJURAN YOGYAKARTA


BUDAYA JAWA PADA GEREJA HATI KUDUS YESUS GANJURAN YOGYAKARTA

Oleh: Eveline Y. Bayu

20180629_104428

Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran lebih dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, terletak 20 km dari kota Yogyakarta. Tepatnya berada di dusun Ganjuran, desa Sumbermulyo, kecamatan Bambanglipuro, Bantul. Gereja Ganjuran selain menjadi tempat ibadah umat Katolik, juga menjadi tujuan wisata ziarah karena bentuk bangunannya yang kental dengan budaya Jawa-Hindhu dan merupakan Gereja kAtolik pertama di Kabupaten Bantul.

Di dalam areal komplek Gereja Ganjuran terdapat bangunan utama Gereja yang berbentuk joglo, tiga buah pendopo, kapel untuk adorasi, candi, makam Tobias dan patung Maria yang diletakkan dibangunan berbentuk joglo sebagai pengganti Gua Maria. Selain itu terdapat kran air Tirta Perwitasari dan Relief Jalan Salib.

20180629_085423
Patung Bunda Maria dalam wujud Jawa yang diletakkan di pendopo.

 

Pada awal tahun 1900an terdapat sebuah keluarga keturunan Belanda yang memiliki perkebunan tebu dan pabrik gula Gondang Lipoera, yaitu keluarga Schmutzer (Elise Anna Maria Schmutzer, Josef Ignaz Julius Maria Schmutzer dan Julius Robert Anton Mari Schmutzer). Mereka melihat perlunya sebuah Gereja bagi karyawan pabrik gula dan masyarakat sekitar. Selama ini Misa Kudus hanya diadakan di salah satu ruang utaman keluarga Schmutzer. Pada tahun 1923 dipindahkan ke rumah salah satu pegawai pabrik gula. Lalu rumah tersebut dijadikan sebagai kapel.

Julius Schmutzer sangat mencintai budaya Jawa. Oleh karena itu ia meminta ijin Tahta Suci unutk membangun Gereja dengan nuansa Jawa. Tahta Suci hanya mengijinkan untuk patung altar Jawa dan patung Hati Kudus Yesus.

Peletakan batu pertama oleh keluarga Schmutzer dilakukan sebagai tanda dimulainya pembangunan Gereja. Pembangunan melibatkan arsitektur dari Belanda Th Van Oyen. Sedangkan ukiran dan bagian lain dikerjakan oleh seniman Jawa bernama Iko. Tanggal 16 April 1924 pembagunan selesai. Lalu pada tanggal 20 Agustus 1924 Gereja diberkati oleh Vicaris Apostolik Batavia Mgr. J. M. van Velsen SJ. Pastor yang bertugas pertama kali di Gereja tersebut ialah Pastor van Driessch.

Bangunan Gereja bergaya rumah kampung Jawa, limasan. Bangunan menghadap ke barat. Bentuk ini sangat cocok dengan kondisi masyarakat yang terus berkembang, karena dapat diperluas ke arah barat (ke depan) dan timur (ke belakang altar). Bentuk limasan dapat diperluas sejauh tidak merubah bentuk aslinya.

Di dalam bangunan Gereja terdapat dua belas tiang (soko guru) setinggi 3 meter. Enam tiang di sisi kanan dan enam tiang di sisi kiri. Tiang tersebut dari kayu jati.

Di bagian altar terdapat rel. Rel digunakan untuk menggeser altar apabila dilakukan renovasi. Altarnya menghadap ke timur. Altar terbuat dari batu putih. Tarbenakel dibelakang altar diberi ukiran malaikat di kanan dan kiri. Patung malaikatnya digambarkan seperti ksatria Jawa yang mengenakan ikat pinggang motif kawung dan mahkota.

Bagian atas Gereja dirancang menggunakan kayu tipis dan dicat putih. Atap Gereja menggunakan atap pelana (dua bidang miring dengan kedua ujungnya saling bertemu) dengan kemiringan 30 hingga 40 derajat.

Gereja tidak hanya bergaya Jawa tetapi ada unsur Indies. Hal ini tampak pada pengunaan batu kali untuk tembok depan Gereja setinggi 1,5 meter serta menara. Menara digunakan untuk meletakkan lonceng. Menara diletakkan diatas pintu masuk Gereja. Lonceng didatangkan dari Belgia dan diberinama Elizabeth (nama dari ibu mereka).

Tahun 1924 – 1934 Gereja masih memiliki status Stasi. Lalu dibutuhkan persiapan selama 6 tahun (1934 – 1940) untuk merubah status menjadi paroki. Pada tahun 1940 resmi menjadi paroki dengan Pastor pertama yang memimpin paroki ialah Pastor A. Soegijapranata, SJ. Pastor A. Soegijapranata, SJ. Melakukan perluasan Gereja ke arah barat sepanjang 15 meter pada tahun 1942

Pada tahun 1967 Romo Strommesand SJ membangun  sakristi, ruang paroki dan ruang misdinar di sisi timur Gereja.

20180629_091111
Langit langit gedung gereja denganpola ukiran Jawa.

Tanggal 27 Mei 2006 pagi terjadilah gempa yang menghancurkan Gereja Ganjuran. Tahun 2007 dibentuklah panitia untuk pembangunan kembali Gereja Ganjuran. Setelah panitia medapat ijin dari Sri Sultan Hamengkubuwono X untuk membangun joglo dan ornamnenya yang menyerupai keraton, maka proses pembangunannya dimulai. Dimana Gereja yang sekarang masih kental dengan filosofi budaya Jawa dan lambing lambing dari Alkitab.

20180629_090608
Ruang Adorasi

20180629_115856

Sumber:

Nugroho, Berardus Ardian Caho, Karakteristik Kejawaan Arsitektur Gereja Katolik Ganjuran (1924 – 2013), Universitas Sanata Darma, Yogyakarta, 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s