PERMAINAN KACA PATRI PADA GEREJA KATOLIK BUNDA MARIA CIREBON


PERMAINAN KACA PATRI PADA GEREJA KATOLIK BUNDA MARIA CIREBON

Oleh : Eveline Y. Bayu

20190330_170130[1]

Berada di Taman Doa Regina Rosario (yang terletak di Jalan Dukuh Semar 34 Cirebon), selain menikmati suasana taman yang hening dan damai, tetapi kita juga akan melihat keindahan Gereja Bunda Maria. Sebelum memasuki gedung Gereja, kita akan melewati, bangunan terbuka, mirip pendopo yang berukuran kecil.

20190330_165526[1]

Keindahan Gereja Bunda Maria terletak pada hiasan kaca patri yang mendominasi dinding Gereja. Kaca patri adalah kaca yang diwarnai dengan cara menambahkan garam metalik saat pembuatannya. Kaca berwarna ini dibuat menjadi “jendela kaca patri” di mana potongan-potongan kaca kecil disusun membentuk pola atau gambar, lalu biasanya disatukan dengan bilah-bilah timbal dan disangga dengan sebuah bingkai kaku.

20190330_170059[1]

Apabila kita menengok ke belakang, keberadaan kaca patri pada dinding Gereja sebenarnya bukan hanya sebagai hiasan, tetapi memiliki fungsi pengajaran mengenai Alkitab. Itu sebabnya kaca patri umumnya menampilkan gambar dari Alkitab atau peristiwa dari kehidupan Kristus, seperti piala dan hosti, anak domba, burung merpati, Yesus, murid-murid Yesus dan perahu. Namun pada Gereja Bunda Maria kaca patrinya menggambarkan Bunda Maria. Ini sesuai dengan nama pelindung Gerejanya yaitu Bunda Maria. Dimana tujuan dari kaca patri bergambar Bunda Maria ialah untuk memberikan inspirasi dan teladan Bunda Maria kepada umat Gereja.

20190330_170040[1]

Bukan hanya dinding sisi kanan dan kiri yang memiliki hiasan kaca patri, dinding di belakang altar juga terdapat kaca patri. Kaca patri pada dinding altar menggambarkan domba, batu tertuliskan sepuluh perintah Allah dan salib.

20190330_171112[1]

Adanya permainan warna kaca patri di dinding, membuat bangunan Gereja ini lebih hidup. Meskipun bentuk bangunannya tidak serumit Gereja dengan aliran neo gothic, tetapi kehadiran kaca patri mampu memberikan warna pada bentuk bangunan yang mengadopsi unsur lokal. Apalagi ketika kita berada di dalam Gereja pada malam hari, cahaya lampu semakin menambah keindahan Gereja Bunda Maria. Sekedar tambahan informasi, pada tanggal 24 Mei 1990 dilaksanakan peletakkan batu pertama, oleh bapak Uskup Bandung Mgr. Alexander Djajasiswaja, Pr (almarhum) dan diresmikan pada tanggal 15 October 1994.

20190330_165426[1]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s